44. Finale.

Presentasi yang dulu ditunggu, sekarang selesai lah sudah. Perjuangan selama setahun pun mendekati akhir yang hanya menghitung hari. Presentasi terakhir project kami harus dilalui dengan berbagai lika liku permasalahan di minggu terakhir, permasalahan sebuah tim pada umumnya antara pemimpin dan bawahannya. Presentasi ini cukup lama, dan sulit, mengingat attendees yang diundang adalah petinggi-petinggi perusahaan yang notabene sibuknya bukan kepalang.

Bermaterikan 72 slide presentation, kami merasa senjata kami sudah siap untuk ditembak. Senjata yang berisi intisari dari apa yang kami temukan selama setahun perjalanan kami dalam andil kami di project ini. Singkat cerita, waktu yang ditentukan pun datang, satu persatu para undangan hadir dan yang tidak diundang pun hadir. Ron, sebagai project manager mengawali aksinya didepan para pendengar.

Dalam slide kami, kami menebarkan berbagai fakta dari negatif hingga positif, bagaimana cara kami mendapatkan fakta fakta itu, dasar apa yang kami pakai dan sebagainya, sehingga konten yang kami suguhi menjadi berbobot dan menjadi menarik untuk disimak, termasuk saya.

Enggak diduga, presentasi kami malah jadi pemicu diskusi internal antar pemimpin perusahaan yang hadir di pertemuan ini, diskusi berat yang begitu menarik untuk disimak, diskusi yang menyentuh tidak hanya 1-20 orang, namun 1 Indonesia!. Bayangkan saya..bayangkan..

Perjalanan presentasi kami tidak menemui hambatan yang berarti, hanya gap bahasa yang agak mencolok, karena tim saya hanya saya aja yang asli Indonesia, sisanya luar. Singkat cerita lagi, kami berakhir pada slide ke-72 dimana semuanya mengatakan, "akhirnya selesai." Tidak ada pertanyaan yang menohok selayaknya sidang tugas akhir.. ini sungguh menyenangkaaaaaaaaaaaaaaaaaan!.

Saya berpikir, mungkin nihilnya pertanyaan ini karena undangan makan malam kami di akhir slide. Makan malam di hotel mulia, edogin. Just want to share, per orang punya budget sekitar Rp 450.000, (cukup) besar kan?. Awalnya nilai ini muncul karena memikirkan adanya pesta wine di akhir jamuan, tapi kami, client dan saya sendiri tidak bisa ikut, maka dengan tidak mengurangi budget kami memutuskan untuk mencari restoran yang mahal sekalian. Jujur, saya dibayarin, ya ngikut aja. Seneng? enggak usah ditanya.

Seperti meeting sebelumnya, dinner kali ini juga turut dihadiri yang terundang dan yang tidak diundang. Salah satu pihak yang tidak diundang adalah petinggi internal saya yang asli produk Spanyol. Kami bicara banyak hal, terutama sepakbola. fyi aja nih, ternyata perusahaan saya ini punya cara khusus untuk memanjakan client nya, yaitu dengan mengajak nonton Real Madrid di Santiago Bernabeu plus VIP seat! karena kami merupakan salah satu sponsor Real, mupeng berat bro.

Akhir kata, kekenyangan adalah kata yang tepat menggambarkan saya malam itu. Perut menggembung menandakan berat saya sepertinya nambah lagi. Sekarang saya tutup saja perbincangan ini, saya harus kembali kerja. Kecup hangat.

Comments

armae said…
Aku sedang mencoba membayangkan gimana jadi kamu, dan disaat bersamaan membandingkan dengan pekerjaanku sekarang. Sepertinya cara kita memperlakukan 'orang asing' atau 'tamu' atau 'petinggi perusahaan' benar-benar berbeda, dan boleh dibilang sangat bertolak belakang. Hmmmm,.. Menarik sekali.
AuL Howler said…
Whaaattt???
*kapan ya bisa makan dengan budget segitu*

*mikir dengan air liur menetes-netes*

Hai bang Urkhan!
long time no here
maaf baru bisa bw , sering susah komen disini
nuel said…
Mengingat profesi gue (Sebagai penulis) dan masih awal karir, kayaknya masih lama banget bisa makan di tempat2 begituan... Hahaha...
Fellicia said…
somehow.. kerjaanmu kedengarannya challenging tapi menarik haha

Popular posts from this blog

143.QUOTE DEEPAK CHOPRA

136.GUNUNG MUNARA

139.BYE.COM