114.Laughing.
I was laughing at myself on telling you this.Back in the day i was travelling to yogya. Ini cerita tentang bagaimana kebodohan yang dilandasi hanya dengan nafsu, tanpa ada pertimbangan sama sekali dalam mengambil keputusan.
Tanggal 21 maret, seharusnya saya sudah ada di yogya untuk menghadiri acara lamaran kakak sepupu tertua gue, khi damang. Tapi gue menemui beberapa rintangan yang menurut gue cukup lucu untuk diceritakan yang dimulai dari gue ketinggalan pesawat.
Jum'at 20 maret, hari ini adalah hari macet sedunia. Jarak dari kantor menuju bandara seharusnya enggak jauh, hanya lewat pejompongan terus bisa langsung masuk ke tol dalam kota dan paling maksimal 30-45 menit sampai bandara. In this case it takes almost 1 jam yang dibutuhkan untuk melewati pejompongan saja yang artinya secara geografis sebenarnya belum ada setengah jalan hingga menuju bandara. Kalau dijelaskan dari awal, sebenarnya gue udah berangkat dari kantor sekitar jam 3/setengah 4 dan baru sadar kalau ternyata 2 jam perjalanan aja masih kurang.
Disaat gue gelisah melihat jalan yang enggak bergerak, ada bapak-bapak sebelah gue yang bertanya, "mas, ngapain? buru-buru amat?", "iya pak, saya ada flight jam 6 sore dan macet banget jadinya saya mau naik ojek deh kalo gitu", "ooh gitu ya mas. enakan saya dong mas, masih santai kan saya flight nya jam 8 malem.", what the fak banget deh itu orang, bukannya suggest gue untuk ayo buru-buru malah jadinya sombong, yah walaupun sedikit dalam hati gue semoga tuh bapak juga telat flight nya sih.
Kali ini secara kalkulasi, tempat dari pejompongan menuju tukang ojek terdekat adalah palmerah, yang jaraknya sekitar 300 m dari tempat gue terjebak macet. In this term, hasilnya adalah gue turun dari damri yang gue naiki dan lari bak aktor laga dikejar polisi sambil bawa narkoba hingga perempatan slipi.
Sampai di perempatan slipi, disinilah kesalahan gue, gue tergoda untuk naik ojek menuju bandara, didasari gue enggak yakin dengan naik taksi, berkaca dengan orang tua gue yang naik mobil aja macet enggak gerak, ditambah dengan taksi yang terus penuh. Apa yang bikin gue tergoda naik ojek adalah ada satu tukang ojek yang secara jelas lantang bahwa dia bisa accept challenge gue untuk bisa sampai bandara dalam waktu 30 menit walaupun menurut gue itu totally stupid dan impossible.
Ternyata benar, sampai bandara gue telat 10 menit setelah take off plus gue bayar ojek termahal sepanjang sejarah gue naik ojek, 100 ribu. Gue ketinggalan pesawat. Tapi enggak sampai situ aja, gue inisiatif untuk ambil flight selajutnnya, tapi enggak ada flight kosong. Gue melanjutkan perjalanan gue ke stasiun senen untuk coba beli tiket kereta api cabutan atau refund, habis lagi 150 ribu untuk biaya taksi.
Stasiun senen penuh sesak ramai, antrian panjang, gue berpikir kalau ternyata mungkin yang senasib sama gue juga banyak. disana gue ngantri sekitar sejam, sembari bertanya ke orang-orang sekitar apakah mungkin gue untuk dapat tiket malam ke yogya. Disini gue menyayangkan satu hal, yaitu petugas kereta, bukan sistemnya. Gue merasa para petugas itu enggak bisa me-manage orang-orang dan seakan tidak serius melayani, gue sih enggak terlalu problem dengan sistem kereta yang belum canggih, tapi dengan sifat orang-orang Indonesia yang kalau ada mau akan nubruk sana-sini, hal ini harus di manage. sekian.
Setelah 1 jam mengantri tanpa kejelasan, akhirnya suara keras berkumandang memberitahukan bahwa tidak ada kereta lagi yang tersedia malam ini, so sad. Gue masih tetap insist harus berangkat, tanpa pikir panjang gue telepon agen travel untuk book tiket kereta buat gue besok pagi, dengan konsekuensi makin jelas gue enggak akan sampai ke yogya dalam waktu pagi. Disini gue ternyata dapat tiket pagi dengan sampai ke yogya jam 2 siang ditambah hutang tiket 175 ribu dengan agen travel.
Setelah confirm, gue merasa ragu untuk pulang, apalagi saat itu hujan deras dan uang makin terbatas, alias tinggal 280 ribu di dompet, kalau gue harus pulang, bis pun susah dan gue harus kembali ke senen tepat jam 7 pagi yang saat itu waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.
Gue berjalan keluar sebentar, gue kesal dan marah dengan apa yang terjadi sama gue hari itu, sial banget gue. Tapi setelah jalan beberapa meter keluar stasiun, gue tertarik untuk naik travel darat menuju yogya, entah apa yang gue pikirkan saat itu, gue meng-iyakan diri gue dan gue bayar 250 ribu untuk tiket travel. Gue berpikir gue bisa save time dengan gue tanpa harus pulang lagi, biaya tambahan dengan tidur dimobil juga, toh gue merasa gue punya bantal leher yang selalu gue bawa-bawa kemanapun.
Uang di dompet gue tinggal 30 ribu, gue diarahkan naik mobil mini-bus yang isinya relatif penuh dan gue ketemu juga sama 2 orang yang bareng sama gue ngantri tiket dan mereka juga ternyata enggak dapat tiket malam ini. Well, gue dipaksa harus menikmati malam yang panjang ini.
Hujan deras mengguyur Jakarta ditambah asap rokok dalam kendaraan Bisa dibayangkan kelembapan dalam kendaraan ini berasa bikin gue kurang oksigen dan sesak nafas, orang sekeliling gue juga merasa aneh gue pakai masker di mobil. Sepanjang jalan ditemani dengan alunan musik dangdut koplo terkini yang entah diputar mengulang berapa kali selama perjalanan. Kesialan gue diperparah dengan mengetahuinya si supir ternyata tidak kuat perjalanan malam, masih baru dan tidak tau jalan! plus orang sebelah gue menawarkan untuk kami semua sanggup untuk menggantikan si supir kalau ngantuk di jalan. what a dissastrous night.
Jam 3 pagi, kami baru sampai indramayu yang harusnya di jam yang sama kami sudah melewati cirebon, this is sick, si supir tidur dan gue hanya mencoba ngobrol dengan para penumpang lain, disini adalah gue mengetahui bahwa salah satu penumpang adalah mantan polisi aktif yang sudah banyak terlibat pembunuhan ditambah lagi, dia bawa pistol ternyata. men, gue hanya bisa nelen ludah saat itu, entah gimana keadaan gue sampai yogya nanti atau bahkan, enggak sampai yogya malah.
Sepanjang perjalanan gue mematikan telepon gue untuk mencoba menikmati perjalanan sekaligus menghemat batere. gue sangat paham resiko ini didasari gue sama-sekali enggak mengabarkan keadaan gue kepada semua orang terdekat gue, yang artinya perjalanan gue tertutup dan mungkin semua orang worry dengan keadaan gue.
Perjalanan yang panjang..sangat panjang, kenapa? karena kami diajak muter-muter jawa tengah!. Ada beberapa jalan pintas yang seharusnya bisa sampai dalam waktu 2-3 jam lebih cepat tapi karena enggak tau jalan akhirnya muter-muter. Perlu diketahui juga, semua penumpang punya tujuan yang sama.. solo-yogya, yaitu enggak ada alasan bagi supir karena harus menurunkan penumpang di tempat yang berbeda-beda.
Positifnya adalah, perjalanan benar-benar dikategorikan jalan-jalan karena jalan yang kita lalui adalah jalan pegunungan yang keren banget, udaranya segar, intinya gue menikmati banget perjalanan gue.
Singkat cerita, gue selamat sampai yogya dalam 18 jam perjalanan, sidang keluarga dilakukan dan gue jadi objek kemarahan setiap lini keluarga, gue hanya tersenyum dan menikmati omelan mereka, gue tahu gue salah, tapi ada hikmah dari perjalanan itu...
gue menikmatinya dan it really was a stress relief.
Comments