commitment. part two.

I try to be different. Menuju ke arah yang lebih baik dimana gue mencoba untuk membangun diri sendiri, komitmen ke arah agama. Gue nyaman dengan itu, walaupun tanpa harus dengan perubahan yang melonjak, frontal dan bisa membuat orang-orang bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi sama gue.

Bicara mengenai komitmen ke arah agama, disamping merajinkan diri menjalankan perintah agama, gue mulai start berpikir jauh kedepan untuk apa yang harus gue lakukan di tua gue nanti supaya gue nyaman dalam hidup dan menjalani hidup bukan sebagai orang yang biasa-biasa aja. Entah kapan, gue merasa gue mulai terbentuk jadi manusia yang menyukai untuk berpikir jauh dan berambisi, untuk hal yang kedua, mungkin terbentuk dari lingkungan sekitar gue yang cukup demanding, sehingga gue akhirnya terpatri selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang gue mau tapi dalam konteks positif tentunya.

Dengan case yang begini, gue butuh orang yang bisa mengimbangi gue, bisa menenangkan gue bukan dengan cara menyetop gue, memberi pengertian yang bisa gue terima sehingga mau gue jalan, lari pun gue nyaman menjalaninya. Gue akui, dengan gue yang seperti sekarang, kalau gue berkomitmen sama orang yang sama ambisinya atau lebih, yang ada gue stress karena bisa jadi apa yang sudah kita pikirkan, usahakan tidak pernah ada artinya, mungkin kata bangga dari pasangan kita itu adalah sebuah kata langka yang kalau keluarpun juga karena terpaksa.

Semua yang sudah gue alami, kita alami benar-benar jadi pengalaman yang membuat belajar. Kadang, kita harus ditegur, bertemu seseorang atau bahkan suffering agar kita bisa tau gimana rasanya, terutama belajar agar tidak atau mengubah sesuatu jadi yang lebih baik.

Last year, gue masih merasa takut nikah, komitmen sama seseorang karena gue masih berpikir menggunakan ego sendiri, masih sering berpikir bahwa kenyamanan itu harusnya dinikmati selagi muda. Tapi sekarang, gue merasa yang namanya kenikmatan itu adalah dimana kita menjalani segala sesuatu yang kita jalani dengan ikhlas walaupun segalanya terlihat sulit, gue menyadari, rasa ini beda banget dan nyaman banget.

Sekarang gue mencoba untuk commit dengan pilihan gue, gue punya misi membuktikan untuk diri gue sendiri bahwa apa yang gue yakini sekarang adalah mungkin terjadi jika Allah sudah menurunkan tanganNya langsung.

Insyaa Allah gue yakin gue S2 di Jerman. dan jika enggak ada halangan, tahun depan Insyaa Allah setidaknya gue sudah akad rumah dan punya kekuatan untuk melamar seorang gadis. Gue belum tau itu siapa, cuma Allah yang tau apa yang terbaik buat gue, Dia maha pembolak-balik hati yang gue yakin apa yang gue pilih, adalah yang terbaik untuk masa depan gue. Gue berusaha semaksimal mungkin tapi pasrah dengan lapang dada menerima hasil terburuk jika gue nggak dapat apa yang gue harapkan.

Usaha sekeras mungkin, berdoa dan YAKIN itu modal gue untuk maju jadi manusia yang lebih baik.
Semoga saat gue membaca tulisan gue lagi ini kelak, gue akan membacanya dengan senyum lebar dan menjawab harapan yang gue pikir detik ini, dituliskan disini.

Comments

Popular posts from this blog

143.QUOTE DEEPAK CHOPRA

136.GUNUNG MUNARA

139.BYE.COM