17.Sawarna.




Pantai SAWARNA!, tujuan saya dan kawan-kawan untuk menghabiskan liburan yang singkat ini. Pantai baru booming yang ada di pedalaman Banten kawasan bayah. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 4-5 jam di waktu normal, tapi berhubung adanya arus mudik wisata di akhir tahun, jadinya perjalanan sekitar 8 jam atau tepatnya kami berangkat pukul 7 pagi dan sampai pukul 3 sore. Kami ber-8 dan memutuskan untuk naik mobil yang awalnya direncanakan naik motor. Personil-personil itu ada saya, ARN, pulong, nurma, rizky, sofyan, ridwan dan suryo. Perjalanan ditemani sama cuaca mendung khas bulan desember, cuaca PHP (pemberi harapan palsu).

Kita harus bersyukur juga bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan otak pintar yang berhasil menciptakan GPS, dengan GPS ini kami yang semuanya buta arah menjadi tidak tersasar sedikitpun! hingga sampai tempat tujuan yang kala itu hujan deras, tapi sayangnya, pantai sawarna itu lagi booming sekitar 2 tahun belakangan, sehingga yang namanya fasilitas masih belum memadai terutama masalah penginapan, in short, kami masih belum dapat penginapan sama sekali!.

15.02


Sembari cari parkir yang ternyata seharinya Rp.25.000, saya jalan cari penginapan di tengah hujan, yang uniknya, pantai dan segala resortnya itu hanya terhubung oleh 1 jembatan utama yang menggantung (bukan semen) sepanjang sekitar 50 meteran (mungkin juga lebih), jembatan yang cukup membuat saya gemetaran karena goyangnya itu disebabkan bukan cuma karena angin kencang hujan, tapi motor-motor warga dan pendatang yang antri ditepi jembatan plus banyaknya orang ditengah-tengah jembatan dan semuanya bermotor, ya silakan saja bayangkan sendiri.



Entah ini hari baik saya atau bukan, tapi kami cukup beruntung karena kami menemukan "tinggal satu" penginapan tersisa dengan harga yang bisa dibilang murah untuk waktu ramai, Rp. 500.000 per malam untuk menginap saja walaupun ada paket plus makan 3 kali sehari makan prasmanan senilai Rp.1.500.000 atau dibagi per kepala dan kami tidak memilih itu. Tapi sayangnya, kami hanya dapat satu malam saja karena untuk tanggal 31 - 1 sudah ada yang pesan dan sudah booking dan berhubung kami semua udah capek dan ngebet mau main air di pantai, jadinya kami langsung ambil tanpa pikir panjang, urusan besok belakangan.

16.00


Akhirnya main di pantai!, enggak peduli capek, enggak peduli apapun yang penting main air. Pantai ini menurut saya masih agak galak, ombaknya masih lumayan besar, salah satu positifnya pantai masih bersih, masih banyak pecahan-pecahan alami dan sedikit sampah, lifeguardnya pun juga oke, care sama pengunjung dan tidak pernah bosan untuk teriak-teriak di pinggir pantai. Cuma ya itu, karena masih baru, jadinya mainan masih sedikit dan penginapan masih jarang.

Pengunjung, untuk pantai yang relatif baru terbilang tidak terlalu banyak, jadinya pantai yang harus di share dengan orang lain masih bisa luas untuk kita sendiri. Akses dari penginapan ke pantai sekitar 100-200 meter, enggak jauh-jauh amat, jadi enggak perlu lah untuk bawa-bawa baju berat-berat ke pantainya, lagian banyak orang yang jalan juga kesana.

18.28
Tampaknya jam saya harus segera diamankan karena kemasukan air asin, baju udah enggak jelas lagi basahnya dan sepertinya saya juga harus menyudahi ambisi saya main di air. Perutpun sudah bergema meminta asupan gizi, kamipun menyudahi dengan main pasir (lho malah main lagi?).

19.00


Makan malam tiba, kami memilih ke tepi pantai dengan harapan akan mendapati makanan khas laut. Namanya warung pak kumis, begitu orang-orang dan yang punya memanggilnya sendiri, dia menjual masakan khas laut yang relatif masih tidak terlalu mahal untuk ukuran tempat wisata baru. Sistem penjualannya adalah paket, kita menentukan untuk berapa orang dan dia menentukan paketnya.

Paket kami untuk 6 orang karena yang 2 enggak suka ikan (payah), pak kumis menyediakan kami 2 ikan besar, 4 sate cumi bakar, 5 ikan bulan dan free refill nasi, masih terpisah dengan minumnya, kami ber-6 hanya membayar senilai Rp.22.000 per orang dan total Rp.25.000 per orang ditambah es teh manis, menurut saya ini murah.





Selesai makan, kami ngobrol sama pak kumis tentang destinasi dan nasib kami besok, pak kumis menyarankan kami untuk ikut ber-sunrise ria di laguna pari, kemudian menyusuri pantai menuju tanjung layar diakhiri dengan melihat tapak si kabayan dan tanpa berpikir panjang, kami menyetujuinya, pak kumis juga menyarankan anaknya yang jadi guide, yah lumayan juga daripada cari-cari lagi.

Maaf untuk makanan, berhubung udah pada lapar, jadinya enggak bisa motret-motret.... :p

Comments

Popular posts from this blog

143.QUOTE DEEPAK CHOPRA

136.GUNUNG MUNARA

139.BYE.COM