18. Sawarna dua.
04.00
Kami berangkat dari penginapan menuju tempat pak kumis untuk menemui anaknya, namanya alung, sepintas keliatan agak tua, tapi ternyata masih SMP kelas 2 yang diketahui pernah masuk TV main jadi temannya si bolang episode Sawarna tahun 2010.
Perjalanan secara teori 20 menit, tapi dikondisikan semalam hujan dan longsor, kami harus rela perjalanan dimakan waktu hingga lebih 20-30 menit dari perkiraan. Jalan yang kami tempuh adalah jalan setapak disisi sawah, sepertinya kami salah kostum sehingga kami harus rela kaki kami penuh dengan lumpur dan berbecek-becek ria, harapan kami cuman satu, jangan sampe masuk jurang yang ada di sebelah kami, ya karena kami melewatinya saat gelap. Sayangnya saya enggak bisa merekamnya karena tangan dan kaki saya sudah penuh lumpur.
Kesulitan yang melanda tidak hanya sampai situ aja, setelah rawa, kami harus melewati bukit naik turun yang jalannya berbatu agak tajam yang disiram air hujan, ya, licinnya bukan main, dilematis antara buka sandal dan enggak, buka sandal sakit enggak pake sandal licin lumpur.Ini semacam pelajaran juga, bahwa pentingnya sepatu boot karet untuk bepergian ke gunung.
Matahari kayaknya udah mulai bangun ditandai hari sudah mulai terang, buat kami, ini berita buruk. Saya sama suryo terpisah jauh dengan yang lain, saya kena masalah infrastruktur, sandal saya tidak bisa diajak kerjasama begitu juga suryo, mungkin yang lain udah sampai tempat tujuan.
Sekitar 15 menit kemudian saya dan suryo sampai, hal yang membanggakan adalah ternyata kami sampai tidak jauh beda dengan rombongan cepat tapi buruknya, kami kelewatan sunrise-nya tapi terobati dengan indahnya laguna pari yang saat itu kami rombongan pertama yang datang, pantainya bersih dan ternyata belum banyak orang tau. Laguna pari diambil dari keadaan pantai yang menjadi tempat untuk menangkap ikan pari.
09.14
Saya melihat jam, ternyata kami harus segera menuju tanjung layar, lagipula sudah banyak rombongan yang datang. Jalan yang kami tempuh benar-benar menyusuri pantai, melewati batuan besar kikisan laut dan air pasang surut yang cukup besar karena musim hujan. Kondisi fisik yang sudah mencapai 40% berkat menantang alam harus dipaksakan agar bisa sampai penginapan dengan selamat.
Kami membatalkan melihat tapak si kabayan karena kondisi fisik, jadi kami memotong dan langsung menuju tanjung layar. Tanjung layar itu bentuknya batuan besar berbentuk seperti layar kapal dan terdapat dua buah, yang besar dan yang kecil, tapi menurut saya pribadi enggak terlalu menarik sih.
30 menit kami tergopoh-gopoh di pesisir pantai, untungnya kami melihat surga kecil, yaitu warung chinese food plus es kelapa muda, keadaan ini membuktikan kalau ternyata surga itu ada, dekat dan tergantung gimana cara kita liat itu..HAHAHAHA.
10.25
Kami sampai penginapan lagi, kamar mandi harus antri dan diawali para wanita untuk berberes. Setelah semua selesai, kami dihantui dengan harus pindah tempat, saya merasa harus cari dimana para peserta sudah pada tidur kecapekan, hanya saya, sofyan dan suryo yang masih terjaga walau kami juga udah 5 watt. Berhubung kami masih luntang-luntung, saya coba untuk cari tempat lagi.
Saya dapat tempat yang layak, di tepi pantai, lesehan eksklusif dengan harga terjangkau. Tadinya saya dapat beberapa tawaran, Homestay senilai semalam Rp. 1.5juta + Makan 3x, tenda tepi pantai senilai Rp.100.000 semalam, tapi sepertinya pilihan saya tepat, jauh lebih enak di lesehan itu.
15.00
Kami full istirahat dan main kartu, kami menikmati pesisir pantai yang sejuk ditemani suara ombak yang menenangkan hati hingga menunggu tengah malam.
haaaahh... nikmatnyaa...
Comments