39.Gagal Edisi 2

Ada pelajaran lagi yang saya dapat hari ini, tanggal 22 Mei kemarin, saya gagal lagi di Psikotes Astra Graphia, ups, maaf harusnya saya tidak membicarakan ini disini karena saya ambil cuti kemarin. Tapi.. ah, sudahlah, saya harus cerita.

Pagi itu saya sudah ada di rumah karena testnya di Cibubur, yang notabene lebih dekat dari rumah. Almond alias motor tersayang sudah di karantina karena siap untuk dilego, dilego karena saya insyaAllah memberanikan diri untuk beli motol balu, maksud saya motor baru (ehm..). Balik lagi, tes ini adalah tes awal, pertama sebelum masuk jenjang interview psikolog. Tes ini seperti lumrahnya psikotes, terdapat tes sifat, pauli dan banyak lainnya.

Tes dimulai jam 8 pagi, di ruko yang tampak tidak meyakinkan sama-sekali, satu persatu orang berdatangan seiring dengan akan dimulainya waktu tes, peserta tes ternyata tidak hanya dari AG, tapi ternyata juga ada yang dari astra-astra yang lainnya juga. Tes dimulai dengan soal berhitung selama 7 menit, hitungan (sangat) sederhana, matematika dasar yang tidak saya persiapkan sebelumnya, maklum, saya lemah di matematika, satu-satunya nilai matematika saya yang bagus hanyalah saat episode mata uang, itu saja.

Tes tersebut saya lalui dengan susah payah hingga saya keringatan, takut. Setelah 7 menit berlalu, kemudian masuk ke dalam tes persamaan, dalam tes ini kami disuruh untuk menganalisa antonim dan sinonim secara cepat, tidak semuanya antonim dan tidak semuanya sinonim, yang diperintahkan hanya kerjakan dalam waktu 7 menit saja (lagi). Untuk bagian ini, saya rasa, saya tidak menemui kesulitan yang berarti, bahkan saya menikmati permainan analisis ini hingga saatnya menebak gambar. Ya, analisa gambar adalah bagian terakhir dalam ujian ini.

Tebak gambar berlangsung selama 12 menit, bukan 7 menit? benar, dan saya lega mendengarnya. 12 menit saya lalui dengan suka cita dengan harapan tinggi karena saya yakin bisa menjawabnya dengan sempurna, saya merasa saya bisa, lewat dan kemudian timbul optimis saya bisa langsung ke interview nantinya.

Asa itu seakan pupus setelah tau tes terakhirnya adalah tes pauli atau berhitung koran. Jangan ketawa, saya sangat sangat lemah disini dan saya sudah beberapa kali gagal disini. Ini seperti mimpi buruk di siang hari, saya coba yakinkan otak saya untuk tetap tenang dan kerjakan saja apapun yang terjadi secepat mungkin. Tidak lama, kertas dibagikan dan siap untuk dikerjakan, pensil saya sudah cukup tajam dan ketiadaan penghapus tidak saya pedulikan lagi.

Dimulai, hitungan koran ini dimulai, saya mulai mengerjakan sederet angka panjang diiringi dengan alunan komat-kamit penjumlahan angka di bibir saya, menurut saya, ini cara terbaik untuk membantu saya. Pekerjaan saya sedikit terganggu dengan orang disebelah saya. Sret..sret..sret..sret, goresan pensilnya yang seakan tidak ada jeda berpikir itu semakin membuat saya terpacu untuk membalapnya, tapi apa daya, penyakit saya kambuh, sering punya jeda berpikir, saya makin turun semangat untuk mengerjakannya.

Mungkin udah 15 menit, saya mengerjakan ratusan angka untuk dijumlahkan, peserta di sebelah saya ternyata sudah mengerjakan lembar kedua, saya? baru masuk halaman kedua dari selembar kertas, dan jujur, saya stres, silakan katakan saya aneh, tapi itu yang saya rasakan saat itu.

Tes berakhir, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saya tidak punya feeling apa-apa tentang kelolosan saya, saya merasa saya pasti tidak bisa lolos ke tahap berikutnya. Ternyata benar, pengumuman kelulusan ditunjukkan tidak lama setelah berakhir, nomor saya tidak ada disitu, tidak ada, tidak ada, tidak ada nama saya walaupun saya sudah 3 kali memeriksa kertas pengumuman itu. Tidak pikir panjang, saya pulang, saya ingin tidur dan berharap hari ini cepat berakhir.

Entah apa yang Tuhan pikirkan dan rencanakan terhadap saya, saya seakan diberi kemampuan berangan-angan setinggi langit, dibekali kemauan berusaha kekeras batu tapi kemampuan saya hanya sekecil tempe dibandingkan dengan orang lain yang, mungkin tidak pernah membayangkan dan ditambah tidak pernah berusaha belajar, tapi dia lolos dengan merokok. Terdengar tidak adil kan? itu misteri yang tidak pernah akan saya ketahui kebenarannya dan saya benar-benar down sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

143.QUOTE DEEPAK CHOPRA

136.GUNUNG MUNARA

139.BYE.COM