40.Uncertainty.

Actually, saya mau menulis yang satu ini dengan perasaan marah, jengkel dan segala isinya. disatu sisi saya harus senang karena dapat kerjaan, tapi ketidak pastian masa depan itu yang bikin saya susah untuk menerima. Saya sadar, saya harus "mengikuti" karena saya "dibayar" ditambah saya memang tidak punya pilihan lain selain menerima. Memang, keputusan mempertahankan itu sangat membuat saya bersyukur, akhirnya saya bisa melewati fase kritis itu dan untuk hal yang satu ini, cukup sampai sini, saya bersyukur dan terima kasih.

Kemudian sifat manusia saya muncul, rasa ketidakpuasan kembali berkumandang di telinga saya, rasa yang masih saja merasa kurang. Kurang disini muncul karena saya divonis harus menyelesaikan kontrak tahap dua dengan durasi yang sama, ketidakpastian pekerjaan pun mengekor, sebenarnya fakta terakhir adalah hal pemicu dari dua sebelumnya. Masalah manusia yang lainnya muncul lagi, saya egois, pekerjaan yang saya inginkan hanya 20% kemungkinannya, bekerja hanya dengan mengandalkan semangat tanpa disertai hati yang ikhlas memang rasanya pahit, tapi harus ditelan.

Ini cuma uneg-uneg saya yang harus saya buang, bekerja tanpa hati itu rasanya tidak menyenangkan.

Comments

Popular posts from this blog

143.QUOTE DEEPAK CHOPRA

136.GUNUNG MUNARA

139.BYE.COM