85.Kon-flict.
Ini hal yang pertama kali saya cicipi selama saya berkarir, suatu hal dari 3 faktor yang kita harus highlights dalam berkarier; bos, gaji, lingkungan. Ketiga faktor ini tidak akan pernah bagus sekaligus karena pasti minimal ada satu yang buruk, enggak bisa dipungkiri juga bahwa ketiga faktor ini yang biasanya jadi benchmark orang-orang untuk mencoba peruntungan di tempat lain.
Terdengar berbahaya, ada gosip-gosip tak sedap di kantor. Seseorang di tempat kami seperti dipaksa untuk menerima SP-1, ya benar.. surat peringatan. Surat yang diterima jika Anda dirasa melakukan kesalahan lebih dari 3x secara berurutan, surat yang setidaknya mem-push Anda untuk berubah dari kebiasaan, atau pergi. Masalah ini berawal dari terlewatnya kami untuk mendaftarkan diri pada tender di salah satu kementrian besar, salah satu dari pihak manajemen merasa bahwa hal seperti ini tidak bisa dibiarkan karena menyangkut kehilangannya momentum bisnis bagi perusahaan. yang membuat saya merasa dirugikan adalah ketika saya dikaitkan karena menjadi saksi untuk memperkuat "seseorang" tersebut untuk mendapatkan SP.
Tidak hanya saya yang namanya mencuat, tapi ada teman se-level saya yang juga kaget kenapa namanya tiba-tiba muncul ke permukaan, ditambah "Seseorang" tersebut tidak punya trek buruk sama-sekali di mata kami dan kami selalu tau apa yang dia lakukan untuk perusahaan ada alasannya dibalik itu.
Bagi saya pribadi, masalah ini sebenarnya tidak membuat saya berubah secara work ethic, tapi dengan adanya nama saya yang diungkit disini, ini jadi masalah untuk saya. GILA!, ini memang gila, saya dilibatkan untuk urusan yang tidak saya lakukan dan bisa jadi ini jatuhnya fitnah? saya tidak tau. Hal ini merefleksikan salah satu dari faktor yang buruk, tidak lain adalah lingkungan.
Posisi saya di kantor masih belum kuat dan saya masih butuh sekali pekerjaan ini. Padahal baru ini saya tenang setelah gagal garuda.
--------------------------------------------------------
update 16/5/14
Setelah diskusi dengan pihak HR, kami ternyata menemukan beberapa kejanggalan terhadap peristiwa ini, dimana sang manajemen itu hanya "meminjam" nama saya untuk memperkuat argumen dia untuk mem-push pihak direksi agar mendepak "seseorang" itu. Ternyata ter-endus bahwa sang manajemen tersebut sepertinya punya masalah pribadi dengan "seseorang" tersebut dan berniat (mungkin) untuk mendepaknya yang dilanjutkan dengan memasukkan orang kepercayaannya dalam tim.
Beberapa fakta mulai muncul ketika ternyata sang manajemen ini tidak punya otoritas untuk mendepak setelah dia gagal untuk me-lobi direksi untuk memberikan hak mendepak tersebut, atau bisa dibilang setelah dia gagal membakar bagian atas, dia membakar bagian bawah. Tapi kami tidak takut karena kami (saya) punya argumen kuat untuk defense.
Saya hanya berharap "seseorang" itu aman karena dasarnya dia orang yang baik. Kasus ini makin membuka mata saya akan kehidupan sesungguhnya dalam hidup, konflik yang bisa muncul dari mana saja-kapan saja tanpa kita ikut didalamnya. Politisisasi itu menyakitkan!
Terdengar berbahaya, ada gosip-gosip tak sedap di kantor. Seseorang di tempat kami seperti dipaksa untuk menerima SP-1, ya benar.. surat peringatan. Surat yang diterima jika Anda dirasa melakukan kesalahan lebih dari 3x secara berurutan, surat yang setidaknya mem-push Anda untuk berubah dari kebiasaan, atau pergi. Masalah ini berawal dari terlewatnya kami untuk mendaftarkan diri pada tender di salah satu kementrian besar, salah satu dari pihak manajemen merasa bahwa hal seperti ini tidak bisa dibiarkan karena menyangkut kehilangannya momentum bisnis bagi perusahaan. yang membuat saya merasa dirugikan adalah ketika saya dikaitkan karena menjadi saksi untuk memperkuat "seseorang" tersebut untuk mendapatkan SP.
Tidak hanya saya yang namanya mencuat, tapi ada teman se-level saya yang juga kaget kenapa namanya tiba-tiba muncul ke permukaan, ditambah "Seseorang" tersebut tidak punya trek buruk sama-sekali di mata kami dan kami selalu tau apa yang dia lakukan untuk perusahaan ada alasannya dibalik itu.
Bagi saya pribadi, masalah ini sebenarnya tidak membuat saya berubah secara work ethic, tapi dengan adanya nama saya yang diungkit disini, ini jadi masalah untuk saya. GILA!, ini memang gila, saya dilibatkan untuk urusan yang tidak saya lakukan dan bisa jadi ini jatuhnya fitnah? saya tidak tau. Hal ini merefleksikan salah satu dari faktor yang buruk, tidak lain adalah lingkungan.
Posisi saya di kantor masih belum kuat dan saya masih butuh sekali pekerjaan ini. Padahal baru ini saya tenang setelah gagal garuda.
--------------------------------------------------------
update 16/5/14
Setelah diskusi dengan pihak HR, kami ternyata menemukan beberapa kejanggalan terhadap peristiwa ini, dimana sang manajemen itu hanya "meminjam" nama saya untuk memperkuat argumen dia untuk mem-push pihak direksi agar mendepak "seseorang" itu. Ternyata ter-endus bahwa sang manajemen tersebut sepertinya punya masalah pribadi dengan "seseorang" tersebut dan berniat (mungkin) untuk mendepaknya yang dilanjutkan dengan memasukkan orang kepercayaannya dalam tim.
Beberapa fakta mulai muncul ketika ternyata sang manajemen ini tidak punya otoritas untuk mendepak setelah dia gagal untuk me-lobi direksi untuk memberikan hak mendepak tersebut, atau bisa dibilang setelah dia gagal membakar bagian atas, dia membakar bagian bawah. Tapi kami tidak takut karena kami (saya) punya argumen kuat untuk defense.
Saya hanya berharap "seseorang" itu aman karena dasarnya dia orang yang baik. Kasus ini makin membuka mata saya akan kehidupan sesungguhnya dalam hidup, konflik yang bisa muncul dari mana saja-kapan saja tanpa kita ikut didalamnya. Politisisasi itu menyakitkan!
Comments