89.For Real?.

Minggu kemarin saya coba mengikuti lagi jobfair kecil yang diadakan oleh jobstreet, saking kecilnya jobfair itu hanya diisi oleh 6 perusahaan saja dan dilabeli label "experienced", jadi spesifik sekali requirements nya. Saya menyempatkan datang karena ada sms dari jobstreet bahwa saya diundang interview oleh Frisian Flag.

Oke, intinya sebenarnya bukan karena saya interviewnya gimana, karena interview kali ini saya benar-benar lepas tangan hanya iseng belaka dan tidak ada yang spesial pada occasion kali ini. Yang sebenarnya jadi perhatian saya adalah saya harus membayar sebesar 50 ribu untuk masuk!. Angka yang cukup berat untuk seorang pencari kerja, saya hanya mau coba agak bijak kali ini. 

Disisi pencari kerja, makin dilihat betapa sulitnya mencari kerja harus diperparah dengan bertambahnya modal untuk mencari kerja, padahal sejatinya yang namanya mencari kerja itu kan mencari penghasilan mencari uang dan se-pengalaman saya kemungkinan untuk diterimanya juga ndilalah juga enggak bertambah, malah lowongannya cenderung banyak yang kurang bagus menurut saya, marketing-sales atau yang baunya sama.sama aja kok cuma bedanya dikumpulin aja jadi satu di satu tempat.

Disisi EO penyedia kerja, memang pintar melihat lahan bisnis, disaat demand masyarakat yang begitu banyak. Untuk hal ini, saya hanya menganggap itu sebagai, ya... saya bingung bilang apa.

Semakin saya banyak menulis ini, makin banyak yang saya pikirkan, dimana semuanya sulit untuk dibilang "salah". Karena banyak banget sisi posisi dan negatifnya di masing-masing sisi dan karena otak pemikiran bisnis saya juga jalan sih.. Tapi saya harus bilang kalau mungkin di era yang makin digital ini, harusnya semuanya gratis, karena ibaratnya para pencari kerja itu sebagai pihak yang tertekan. Pasar pencari kerja itu berbeda dengan pasar pencari sayur, bedanya adalah saat datang ke pasar pencari kerja, kami datang untuk mencari kesempatan untuk mencari uang dan di pasar pencari sayur, semua datang untuk mencari sayur dan sudah membawa uang yang cukup.

Edukasi terhadap sistem pencari kerja online ini harus dimaksimalkan oleh orang banyak. Enggak sedikit saya bertanya sama orang-orang yang udah nganggur lama, resign karena mau cari kesempatan lebih tapi terhalang oleh biaya dan banyaknya kertas yang harus di print-fotocopy yang akhirnya mungkin hanya jadi seonggok sampah.

Paperless dan melek teknologi bisa jadi kata yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut diatas, bener gak? :)

Comments

Popular posts from this blog

143.QUOTE DEEPAK CHOPRA

136.GUNUNG MUNARA

139.BYE.COM